Kunci-kunci Rizki

“…10 (Sepuluh) KUNCI-KUNCI RIZKI yang dikhabarkan kepada kita oleh Alloh SWT dan Rosul-Nya…:”

1. ISTIGHFAR DAN TAUBAT.

Nabi Nuh AS. berkata kepada kaumnya : “Maka aku katakan kepada mereka, mohon ampunlah kepada Robb-mu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) sungai-sungai”.
(QS. Nuh : 10-12)

2. TAQWA.

Fiman Alloh SWT : “Barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh SWT, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. (QS. Ath-Thalaq : 2-3)

Tahu

Continue reading

Advertisements

Taubat Nashuha

Kajian Kitab Tazkiyatun Nufus, oleh Ust Muhammad Sulhan Jauhari, di ICC Dammam (13 Shafar 1436)

Allah berfirman: “Wahai org2 beriman, bertaubatlah kpd Allah dg taubat nashuha, boleh jadi Rabb kalian menghapuskan dr kalian dosa2 kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yg di dalamnya mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (At-Tahrim: 8)

Ayat di atas merupakan perintah utk betaubat nashuhah yg dijanjikan dua balasan bagi yg mengerjakannya; diampuni dosa dan dimasukkan ke dalam surga.

Maksud dari nashuha adalah memurnikan taubat dari kekurangan dan kerusakan. Hal2 yg menghilangkan taubat dihilangkan sehingga menjadi murni. Al-Hasan al-Bashri mengatakan bahwa seseorang hamba yg bertaubat dg taubat nashuhah yaitu dg menyesali apa yg dilakukan dan bertekad bulat tidak akan mengulanginya lagi. Al-Kalbi mengatakan, bahwa taubat nashuhah adalah beristighfar dengan lisan dan menyesali dalam hati, dan menahan anggota badannya.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwasannya taubat yg nashuha mencakup tiga hal;
– Pertama, meninggalkan seluruh dosa, tidak ditinggal sebagian dilakukan sebagian yg lainnya. Hal ini berkiatan dg objek seluruh dosa yg di intakan ampunann taubat.
– Kedua, mengumpulkan tekad kuat dan tulus dlm bertaubat sehingga tidak ada keraguan dlm taubatnya, tidak pula menunggu-nunggu untuk menyegerakan taubatnya. Hal ini terkait dg hamba yg bertaubat.
– Ketiga, memurnikan taubat dari berbagai macam kotoran dan penyakit yang dapat merusak keikhlasan. Hal terkait dg kepada siapa taubat ditujukan, yaitu hanya kpd Allah Ta’ala.[]

Simak rekaman audio kajian di atas di sini.

tazkiya

Nabi Tidak Dapat Memberi Petunjuk

Kajian Kitab Tauhid, Bab firman Allah: “Sesungguhnya Kau Tidak Dapat Memberikan Petunjuk Kepada yang Kau Cintai.” (QS. Al-Qashash: 56)

Di ICC Dammam, jam 1.00 pm, oleh Ust. Muhammad Sulhan Jauhari

Hidayah terbagi menjadi 2: hidayah taufiq dan hidayatul irsyad wal bayan. Hidayah taufiq adalah hidayah mutlak milik Allah Ta’ala. Sedangkan hidayatul irsyad wal bayan berkaitan dengan penjelasan, yang merupakan sebab utk mendapatkan hidayah taufiq. Hidayah yg kedua ini yang menjadi tugas para nabi yang harus disampaikan, sebagaiamna tersebut di ayat terakhir surat asy-Syura.

Ayat 56 surah al-Qashash di atas ditujukan kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam ketika beliau sangat mengharapkan hidayah untuk paman beliau, Abu Thalib dan selainnya secara umum. Adapun kecintaan nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam terhadap pamannya yg kafir, bukanlah bentuk wala, akan tetapi kecintaan thabi’i antara paman dan keponakan.

Dalam kitab shahih, Al-Musyayaib berkata taktala datang kepada Abu Thalib ajalnya, Rasulullah mendatanginya sementara di sisi Abu Thalib terdapat Abdullah bin Abi Umayyah dan Abu Jahal, maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata: “wahai paman, katakanlah laa ilaaha illa Allah, kalimat yg aku bisa membela untukmu di sisi Allah….” Kemudian mereka berdua berkata kepada Abu Thalib: “Apakah kau membenci millah Abdul Muthalib?” Kemudian Rasulullah mengulangi perkataan (utk mengucapkan laa ilaaha illa Allah), akan tetapi keduanya juga mengulangi perkataan, maka akhir apa yang dia katakan: dia tetap berada di atas millah Abdul Muthallib dan mengabaikan untuk mengatakan: laa ilaaha illa Allah.

Kemudian nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: “Sungguh aku akan memintakan ampunan bagimu selama tidak dilarang.” Kemudian Allah menurunkan ayat “tidaklah sepatutnya bagi nabi dan orang2 yg beriman untuk memintakan ampunan bagi orng2 musyrik, meskipun mereka kerabat.” (At-Taubah: 113). Dan Allah menurunkan ayat: “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberikan hidayah kepada yg kau cintai, akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada yang Dia kehendaki.” (Al-Qashas: 56).

Dalam ayat 113 surah at-Taubah di atas, bahwa seoang kerabat meskipun sangat dekat, tetapi seorang musyrik, dilarang dimintakan ampunan. Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam saat memintakan ampunan untuk ibunda beliau, tetapi Allah tidak memberikan izin kecuali utk menziarahi makamnya saja, sehingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menangis dan membuat para sahabat di sekitarnya juga menangis (hadits dari Abu Hurairah, riwayat Muslim, kitab al-Janaiz).

Simak rekaman audio kajian di atas di sini.

..::: T A U B A T :::..

Kajian Kitab Tazkiyatun Nufus karya Dr Ahmad Farid, oleh Ust Muhammad Sulhan Jauhari di Masjid ICC Dammam (mulai jam 9.30 am)

Taubat merupakan salah satu bentuk ibadah, jika banyak amalan yang dapat menghapuskan dosa-dosa kecil, maka dengan taubat dapat menghapuskan dosa besar. Taubat dari dosa-dosa dengan kembali kepada Yang Maha Menutupi aib, Maha Mengetahui hal-hal ghaib. Keberadaan taubat merupakan awal keadaan, di tengah, maupun di akhir. Maka, senantiasa manusia harus selalu bertaubat tidak berhenti satu kali di awal saja.

Allah berfirman: “Dan bertaubatlah kalian semua, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian mendapatkan kemenangan.” (QS. An Nuur 31). Dalam surat al-Hujurat ayat 11: “Dan barangsiapa yang tidak bettaubat maka mereka orang-orang yang dzalim.” Continue reading

Akhirnya Hatiku Kembali Tenang

Aug 10, 05:36

SETELAH aku berusaha istiqomah di atas al-Quran dan as-Sunnah karib kerabat menjauhiku dan teman-teman mencelaku, sehingga aku merasa kesepian. Aku pun mulai mencaci diriku sendiri, “mungkin aku salah jalan.”Ketika permasalahan ini sampai pada puncaknya, aku membaca al-Quran sebagaimana kebiasaanku. Seketika itu, mataku tertuju pada sebuah ayat, “Dan Allah hendak menerima taubatmu, sementara orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya menginginkan supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” [QS. an-Nisa’: 27]

Akhirnya hatiku kembali tenang (dengan jalanku) dan keyakinanku semaki menguat (bahwa diriku di atas kebenaran). [sumber: al-Quran Telah Merubahku, Lajnah Ilmiah, Riyadh]

Perselisihan dan Upah Haram

Kajian Kitabul Buyu’ dari Bulughul Maram oleh Ust. Zaki di ICC Dammam (Jum’at 24 Dzulqadah 1435)

~ Hadits 1

“Jika si penjual dan si pembeli berselisih sementara keduanya tidak mempuynai bukti maka yang diambil adalah pengakuan si pemilik barang (penjual) atau jual beli dibatalkan.”

Jika dalam praktek jual beli terjadi perselisihan, maka hukum asalnya dikembalikan kepada pemiliknya, yaitu penjual. Jika pembeli menuntut, maka harus mendatangkan bukti dan yg dituntut (pembeli) bersumpah.

~ Hadits 2

Diriwayatkan dari Abu Mas’ud radhiyalahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang hasil penjualan anjing, uang hasil perzinahan dan upah hasil perdukunan.

1. Jumhur ulama secara mutlak melarang jual beli anjing, baik itu anjing buruan atau anjing untuk fungsi lainnya.
2. Pelarangan kedua menunjukkan haramnya menjadi pelacur, karena diharamkannya penghasilan dari melacur tersebut. Jika seorang pelacur taubat, maka uang yg dihasilkannya selama melacur, maka dibersihkan dengan menyalurkannya utk kepentingan umum, seperti disumbangkan utk pembangunan wc umum, jembatan, jalan raya, dst.
3. Uang hasil perdukunan, yaitu pekerjaan “kahin“, yaitu pekerjaan org yg mengaku mengetahui hal2 yg ghaib seperti meramal sesuatu yg akan terjadi (ghaib) untuk mencari upah. Pekerjaan dukun dan upahnya haram.[]

*) Ditranskrip oleh Muhammad Jalal