Bila Malu Untuk Meminta Maaf

Kita semua tidak lepas dari berbuat kesalahan kepada orang lain. Ketika itu terjadi, sikap terbaik seorang muslim adalah bertaubat nasuha kepada Allah ta’ala dan meminta maaf kepada orang yang kita berbuat salah kepadanya. Janganlah ragu dan malu. Bila tetap masih malu, silakan disimak hadis berikut ini. Semoga menjadi pengingat dan nasihat bagi kita semua.

IMG-20150528-WA0051

Continue reading

Advertisements

Nabi Tidak Dapat Memberi Petunjuk

Kajian Kitab Tauhid, Bab firman Allah: “Sesungguhnya Kau Tidak Dapat Memberikan Petunjuk Kepada yang Kau Cintai.” (QS. Al-Qashash: 56)

Di ICC Dammam, jam 1.00 pm, oleh Ust. Muhammad Sulhan Jauhari

Hidayah terbagi menjadi 2: hidayah taufiq dan hidayatul irsyad wal bayan. Hidayah taufiq adalah hidayah mutlak milik Allah Ta’ala. Sedangkan hidayatul irsyad wal bayan berkaitan dengan penjelasan, yang merupakan sebab utk mendapatkan hidayah taufiq. Hidayah yg kedua ini yang menjadi tugas para nabi yang harus disampaikan, sebagaiamna tersebut di ayat terakhir surat asy-Syura.

Ayat 56 surah al-Qashash di atas ditujukan kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam ketika beliau sangat mengharapkan hidayah untuk paman beliau, Abu Thalib dan selainnya secara umum. Adapun kecintaan nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam terhadap pamannya yg kafir, bukanlah bentuk wala, akan tetapi kecintaan thabi’i antara paman dan keponakan.

Dalam kitab shahih, Al-Musyayaib berkata taktala datang kepada Abu Thalib ajalnya, Rasulullah mendatanginya sementara di sisi Abu Thalib terdapat Abdullah bin Abi Umayyah dan Abu Jahal, maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata: “wahai paman, katakanlah laa ilaaha illa Allah, kalimat yg aku bisa membela untukmu di sisi Allah….” Kemudian mereka berdua berkata kepada Abu Thalib: “Apakah kau membenci millah Abdul Muthalib?” Kemudian Rasulullah mengulangi perkataan (utk mengucapkan laa ilaaha illa Allah), akan tetapi keduanya juga mengulangi perkataan, maka akhir apa yang dia katakan: dia tetap berada di atas millah Abdul Muthallib dan mengabaikan untuk mengatakan: laa ilaaha illa Allah.

Kemudian nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: “Sungguh aku akan memintakan ampunan bagimu selama tidak dilarang.” Kemudian Allah menurunkan ayat “tidaklah sepatutnya bagi nabi dan orang2 yg beriman untuk memintakan ampunan bagi orng2 musyrik, meskipun mereka kerabat.” (At-Taubah: 113). Dan Allah menurunkan ayat: “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberikan hidayah kepada yg kau cintai, akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada yang Dia kehendaki.” (Al-Qashas: 56).

Dalam ayat 113 surah at-Taubah di atas, bahwa seoang kerabat meskipun sangat dekat, tetapi seorang musyrik, dilarang dimintakan ampunan. Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam saat memintakan ampunan untuk ibunda beliau, tetapi Allah tidak memberikan izin kecuali utk menziarahi makamnya saja, sehingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menangis dan membuat para sahabat di sekitarnya juga menangis (hadits dari Abu Hurairah, riwayat Muslim, kitab al-Janaiz).

Simak rekaman audio kajian di atas di sini.