KEUTAMAAN MENYINGKIRKAN GANGGUAN DARI JALAN

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa di antara cabang keimanan adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Beliau menuturkan bahwa amalan ringan tersebut merupakan cabang keimanan yang paling rendah. Perhatikan riwayat berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْإِيْـمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيْـمَانِ.

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh sekian cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan Laa ilaaha illaAllah (tiada sesembahan yang haq selain Allah), sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang keimanan.” (HR. al-Bukhari & Muslim).

abuwaiz2

Continue reading

Advertisements

Ingin Hidup Bahagia?

Saya yakin anda setuju bahwa setiap orang ingin hidup bahagia, terlepas dari cara yang ditempuh oleh masing-masing dalam mewujudkannya. Baik muslim maupun non muslim, orang baik dan yang tidak baik, mereka semua pasti mengharapkan hidup bahagia.

Dalam menggapai kebahagiaan seseorang harus meniti jalan yang telah digariskan, tidak bisa tidak. Seorang yang mengharapkan kebahagiaan namun enggan meniti jalannya, maka tiada mungkin ia dapat menggapainya.

Seorang penyair berkata:

تَرْجُوْ النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا إِنَّ السَّفِيْنَةَ لاَ تَجْرِي عَلَى الْيَبَسِ

Engkau berharap keselamatan namun enggan meniti jalannya
(Ketahuilah) perahu itu tidak pernah bisa berlayar di daratan

Lantas bagaimana cara menggapai kebahagiaan hakiki?

Insya Allah akan disampaikan penjelasannya pada hari Jum’at 21 robiul Awal / 1 Januari 2016 di majelis ilmu ICC DAMMAM. Semoga kita dipertemukan di majelis ilmu itu.

Baarokallahu fiikum.

kajiantematik2

Berjalan Dengan Satu Alas Kaki

DI ANTARA fenomena yang terkadang kita dapati pada saat keluar dari masjid ialah, ketika seseorang hanya mendapatkan satu alas kaki, ia mengenakannya sambil mencari yang lainnya atau berjalan menuju alas kaki satunya. Ketahuilah, fenomena seperti ini –berjalan dengan satu alas kaki- dilarang di dalam Islam. Nabi mulia Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari hal tersebut. Dan ternyata, hal satu ini pun menjadi kebiasaan musuh kita, yaitu setan laknatullah alaihi. Adakah dari kita yang sudi mengikuti langkahnya?!

1). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seorang dari kalian mengenakan sandal maka mulailah dari yang kanan, dan apabila melepas maka mulailah dari yang kiri. Hendaknya ia mengenakan keduanya atau melepaskan keduanya.” (HR. Muslim)

2). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila tali sandal seorang dari kalian putus maka hendaknya ia tidak berjalan dengan satu sandal hingga ia memperbaiki tali sandalnya tersebut, dan janganlah pula ia berjalan dengan mengenakan satu khuff (sepatu) saja…” (HR. Muslim)

3). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Janganlah engkau berjalan dengan mengenakan satu sandal.” (HR. Muslim)

4). Beliau bersabda: ”Sesungguhnya setan berjalan dengan mengenakan satu satu sandal.” (HR. ath-Thahawi. Lihat: ash-Silsilah ash-Shahihah 348)

Kesimpulan

1. Di antara adab mengenakan alas kaki, memulai mengenakannya dari kaki kanan dan memulai melepaskannya dari kaki kiri.

2. Larangan berjalan dengan satu alas kaki, sandal ataupun sepatu.

3. Solusi bagi yang tali alas kakinya putus atau rusak adalah dengan melepaskan kedua alas kakinya.

4. Berjalan dengan satu alas kaki merupakan kebiasaan setan.

5. Kaum muslimin dilarang menyerupai setan.

[Hadits-hadits di atas dinukil dari kitab Mausu’ah al-Adab al-Islamiyyah, Abdul Aziz Nada, hal. 783-784]