Bila Malu Untuk Meminta Maaf

Kita semua tidak lepas dari berbuat kesalahan kepada orang lain. Ketika itu terjadi, sikap terbaik seorang muslim adalah bertaubat nasuha kepada Allah ta’ala dan meminta maaf kepada orang yang kita berbuat salah kepadanya. Janganlah ragu dan malu. Bila tetap masih malu, silakan disimak hadis berikut ini. Semoga menjadi pengingat dan nasihat bagi kita semua.

IMG-20150528-WA0051

Continue reading

..::: T A U B A T :::..

Kajian Kitab Tazkiyatun Nufus karya Dr Ahmad Farid, oleh Ust Muhammad Sulhan Jauhari di Masjid ICC Dammam (mulai jam 9.30 am)

Taubat merupakan salah satu bentuk ibadah, jika banyak amalan yang dapat menghapuskan dosa-dosa kecil, maka dengan taubat dapat menghapuskan dosa besar. Taubat dari dosa-dosa dengan kembali kepada Yang Maha Menutupi aib, Maha Mengetahui hal-hal ghaib. Keberadaan taubat merupakan awal keadaan, di tengah, maupun di akhir. Maka, senantiasa manusia harus selalu bertaubat tidak berhenti satu kali di awal saja.

Allah berfirman: “Dan bertaubatlah kalian semua, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian mendapatkan kemenangan.” (QS. An Nuur 31). Dalam surat al-Hujurat ayat 11: “Dan barangsiapa yang tidak bettaubat maka mereka orang-orang yang dzalim.” Continue reading

Istighatsah Kepada Selain Allah

~ Kajian Kitab al-Qoul al-Mufiid ala Tauhid Syaikh Muhammad at-Tamimi, karya Syiakh Muhammad Sholih al-Utsaimin ~

Di ICC Dammam, 14 Muharram 1436 (mulai jam 1.00 siang)

Bab Beristighotsah Kepada Selain Allah Termasuk Kesyirikan

Istighotsah adalah meminta ghauts (meminta pertolongan) untuk menghilangkan kesulitan, di waktu yg mencekam atau waktu yang sempit. Amalan istighotsah ini tidak bisa dilakukan sembarangan dan di segala waktu. Istighotsah yg diperbolehkan selain kepada Allah adalah untuk perkara yang selain Allah mampu megerjakannya. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Qashash ayat 15 tentang kisah Bani Israil yg meminta pertolongan kepada Nabi Musa alaihissalam: “Maka dia meminta pertolongan kepada kelompoknya dari musuhnya.”

Memohon pertolongan kpd selain Allah dalam hal yang dimampui juga dgn keyakinan bahwa hanya sebagai sebab, karena yang menjauhkan dari segala kesulitan hakekatnya adalah hanya Allah Ta’ala.

Istighotsah merupakan doa yg termasuk ibadah. Allah berfirman dalam ayat ke 60 surah al-Ghafir: “Dan Rabb kalian berfirman berdoalah kepadaKu maka Aku kabulkan untuk kalian, barangsiapa yg sombong dari hambaKu maka akan masuk neraka dengan hina dina.” Dalam sebuah hadits dalam Musnad Imam Ahmad, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: sesungguhnya doa adalah ibadah.”

Doa terbagi dua:
1. Doa yang dimaksud untuk permintaan, seperti permintaan dikarunaikan istri shalihah dan anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dst.
2. Doa ibadah, maksudnya segala ibadah yang mengandung di dalamnya doa. Seperti ibadah berpuasa, ada doa yg dimintakan agar dimasukkan surga dari pintu ar-Royyan, juga sholat, membaca al-Quran, dst., meskipun secara lisan tidak dilafadzkan, tetapi doa perimtaan tsb ada bersama ibadha yg dikerjakan.

~ Firman Allah: “Dan jangnlah berdoa selain kepada Allah, apa2 yg tidak membrikan manfaat dan tidak memberikan madharat, maka sesungguhnya jika kau kerjakan hal tsb maka termasuk dari orang yg dzalim.” (Yunus, ayat 106).

Ayat di atas menegaskan bahwa orang yg berdoa kepada selain Allah termasuk perbuatan syirik, karena kesyirikan adalah perbuatan dzalim.

~ Firman Allah dalam surat Yunus ayat 107: “Dan jika Allah menimpakan kemudharatan kepadamu maka tidak ada yg menghilangkan bagimu kecuali Allah. Dan seandainya Allah mengehendaki kebaikan, maka tidak ada yg dapat menolak karunianya.”

Ayat ini juga menegaskan bahwa hanya Allah yang memberikan kebaikan dan madharat kepada makhlukNya, tidak satupun yang bisa mencegahnya.

~ Firman Allah dlm surah al-Ankabut ayat 17: “Maka mohonlah kepada Allah rezeki.”

Penggalan ayat di atas secara lengkap: “Sesungguhnya sesembahan2 yg kalian ibadahi selain allah, mereka tidak bisa memberikan rezeki, maka mohonlah rezeki kepada Allah”

Dalam ayat ini termasuk berdoa dan meminta rezeki kepada selain Allah adalah kesyirikan. [tanpa diedit]

Continue reading

Nikmatnya Keamanan

~ Terjemah Khutbah Jumat, di ICC Dammam, 14 Muharram 1436, oleh Ust. Muhammad Sulhan Jauhari, MA. ~

Bada tahmid wa shalawat, dua hal yang disampaikan oleh khatib Jumat ini adalah nikmat keamanan dan fitnah kelompok sesat (Khawarij).

Nikmat Allah yang begitu banyak yg tidak berbilang, di antaranya nikmatnya hidup aman. Nikmat ini tidak bisa dipisahkan dengan kesempurnaan agama Islam. Karena syiar Islam tidak dapat dilakukan kecuali tidak ada jaminan keamanan. Ayat ke-55 dari surah an-Nuur mengabarkan ttg kekuasaan yang diberikan kpd kaum muslimin dengan syarat beriman, beramal sholeh, dan tidak menyekutukan Allah dalam beribadah, sebagaimana umat terdahulu.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam selama 10 tahun dalam keadaan ketakutan, berdakwah secara sembunyi-sembunyi sehinga hijrah ke Madinah. Di Madinah pun awalnya masih dalam ketakutan dengan selalu membawa senjata, sehingga seorang bertanya tetang kapan kaum muslimin merasa aman. Rasulullah menjawab tidaklah lama kecuali sesaat, kemudian turunlah ayat 55 surah an-Nuur di atas.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada seorang sahabatAli bin Hatim, beliau menanyakan apakah engkau mengetahui al-hirah (suatu kota di Irak)? Sahabat tsb menjawab tidak mengetahuinya tetapi penah mendengarnya. Kemudian Rasulullah menjawab dengan berumpah “demi jiwaku di tangan Allah, sungguh Allah akan menyempurnakan urusan ini sampai2 seorang wanita melaukuan thowaf tanpa ditemani seorang pun, dan sungguh kerajaan Kisra dan Hurmus benar2 ditaklkukkan. Dan sungguh harta ini akan diberikan danmelimpah sampai tdk seorangpun tidak menerimanya (karena merasa tercukupi).

Ali bin Hatim, melihat dari perkataan Rasulullah tsb telah terjadi, kemudian beliau mengatkaan aku juga termasuk yg ikut menaklukkan kerjaan Kisra dan Hurmus, demi jiwaku di tangan Allah, adapun yg ketiga akan terjadi (karena perkataan nabi adalah benar). Dan hal ketiga menjadi nyata terjadi di jaman khalifah Umar bin Abdil Aziz.

Allah telah memberikan nikmat aman kpd jazirah Arab, sebagaima dalam surat al ankabut ayat 67, tentang keamanan negeri tanah suci sebagai negeri aman, sementara manusia di sekitar mereka saling merampas, satu sama lainnya saling membunuh.

Di tengah keamanan yg dirasakan di negeri Haromain, terdapat sebagian orang2 yg menyimpang dg paham al-khawarij, mereka yg tidak mau taat kepada penguasa (ulil amri). Fitnah seperti ini terus ada dari masa ke masa, membuat kekacauan keamanan di tegah kaum muslimin, padahal kita berkewajiban menjaga keamanannya agar terus ditegakkan ibadah kepada Allah.

Rasulullah bersbada bawah seorsng muslim wajib mendengar dan taat kpd penguasa, baik yang dia sukai atau dibencinya, kecuali jika diperintahkan melakukan kemaksiatan, maka tidak ada ketaatan kpdanya.

Bahaya Fitnah Khawarij
Sifat khawarij di antaranya adalah orang2 muda yg pemikiran2nya belum matang, sehingga tidak mendlam pemahamannya atas alquran dan as sunnah, mereka keluar dari Islam seperti anak panah yg keluar dari busurnya, keluar dengan cepat dan tidak kembali lagi ke tempatnya semula.

Padhal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat menjaga tertumpahnya darah seorang muslim. Bahkan, dalam sebuah hadits, sungguh hilangnya dunia seluruhnya, itu lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorsng muslim saja. Orang2 yg membunuh muslimin dg sengaja, diaancam dimasukkan ke neraka dan laknat Allah atas mereka yg berbat keji tsb.

Alah berfirman dalam surah al-Anfal 24-25, berupa seruan kepada kaum mukminin untuk memunhi seruan Allah dan Rasulnya, jika diseru utk kehidupan. Dan Alah emngingatkan atas takut kpd fitnah, yg dapat menimpah bukan hanya kpd yg berbuat dzalim saja, tetapi kepada keseluruhan umat manusia.

Bahwasannya Rasulullah memberikan wasiat “aku wasiatkan kpd kalian utk senantiasa kpd Allah dan senantiasa taat dan mendengar kpd pemimpin, meskipun dari seorang hamba sahaya. Akan tampak perselisihan, maka hendaknya berpegang kepada sunnahku dan khulafaur rasyidin, genggamlah dg gigi geraham kalian, dan berhati2lah dg perkara2 yg baru.” (aw kaamaa qola rasulkualkah fi haditsihi).

[sebagaimana yang didengar, tanpa edit]