MEMBENAHI AKHLAK

Tidak mudah membimbing diri untuk menjadi pemilik akhlak mulia. Namun bukan berarti tidak ada cara untuk merubah diri menjadi baik dengan akhlak mulia. Berikut ini beberapa kiat yang ditawarkan ulama untuk menggapai akhlak mulia. Mari kita perhatikan dan amalkan. Semoga dimudahkan.

AoUaqbwLyIXVCfT_ebhr8vdLPqivkO_EgNejbQhJNvTH

Continue reading

Advertisements

Bimbingan Manasik Haji (2) di ICC Dammam

Berikut jadwal kajian jumat pekan ini. Semoga ikhwan dan akhwat Dammam dan sekitarnya dimudahkan menghadirinya. Baarokallahu fiikum.

1. Hisnul Muslim (Doa Istiftah)
2. Bulughul Marom (Kitabul Buyu’)
3. Terjemah Khotbah Jumat
4. Fikih Praktis Haji (bagian 2)
5. Fikih Praktis Haji (bagian 2) – lanjutan (ba’da Ashar)
6. Bahasa Arab

Manasik2

Keutamaan Orang yang Lemah, Fakir, dan Tidak Dikenal dari Kaum Muslimin

Kajian Kitab Riyadhus Shalihin, oleh Ust. Muhammad Sulhan Jauhari di Masjid ICC Dammam, mulai jam 3.15 sore (6 Shafar 1436)

Lanjutan ~ Bab Keutamaan Orang yang Lemah, Fakir, dan Tidak Dikenal dari Kaum Muslimin

Hadits no. 253

Dari Abu al-Abbas Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi radhiyallahu anhu, berkata: ada seseorang yg melewati Nabi shalallahu alaihi wasallam dan kemudian nabi bersabda: “apa pendaatmu tentang dia?” Maka Abu al-Abbas berkata: “orang ini dari orang yang jika berkhitbah maka pantas lamarannya diterima, dan jika dia meminta syafa’at maka berhak diterima belajarnya.” Kemudian seorang yang lain lewat, maka Rasulullah bertanya: “apa pendapatmu tentang dirinya?” Maka Abu al-Abbas berkata: “Wahai Rasulullah, orang ini dari orang fakir muslimin, jika dia hendak melamar maka lamarannya layak ditolak, jika meminta syafa’at maka tidak layak diterima syafa’atnya, jika dia berbicara maka tidak patut didengar.” Kemudian Rasulullah bersabda: “orang ini lebih baik dari lebih baik dari seisi dunia seperti orang tadi.” (Mutaffaqun alaih).

Hadits di atas menunjukkan bahwa manusia di sisi Allah dan RasulNya berbeda dengan apa yang di pandangan manusia. Hadits ini juga mengajarkan agar tidak menghukumi seseorang dengan zahirnya semata.

rentan

Faedah Hadits
1. Para sahabat dahulu senantiasa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga selalu mendapatkan ilmu dari Rasulullah, kecuali di waktu-waktu tertentu seperti saat isitrahat, maka yang mengetahui istri dan orang-orang yang tinggal bersama beliau Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dari sini maka duduk-duduk dengan orang yang berilmu dan shaleh sangat dianjurkan.
2. Diperbolehkan bagi seorang guru untuk membuka majlisnya dengan membuka pertanyaan. Ini merupakan salah satu metode belajar dengan memulai pertanyaan.
3. Allah tidak melihat rupa, harta, kedudukan, dan nasab orang, tetapi kepada amal shaleh yang dikerjakan.
4. Tidak diperbolehkan meremehkan orang fakir, orang yang tidak terkenal, padahal mereka bertakwa.
5. Perbedaan di antara manusia adalah ketakwaan kepada manusia, sebagaiaman firman Allah dalam surah Al-Hujurat: “sesungguhnya orang yang paling mukplia di antara kamu adalah yang paling bertakwa.”
6. Hadits ini anjuran menikahkan dengan orang-orang yang shaleh meskipun dari kaum miskin. Sebagaimana anjuran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam menikahkan seseroang berdasarkan akhlak dan agama, bukan harta atau kedudukan.
7. Kebiasaan di suatu masyarakat ketika menyelisihi syariat maka itu tidak ada harganya.
8. Membicarakan orang lain yang tidak ada di antara kita untuk menjelaskan peringatan keburukannya atau mashlahat kebaikannya. Sebagaimana ini juga dilakukan dalam ilmu periwayatan hadits dengan mengabarkan perawi tentang keburukkannya atau kebaikannya sebagai bagian dari ilmu periwayatan agar mengetahui hadits yang shahih atau tidak.[]

Simak rekaman audionya di sini 

Husnul Khuluq

Suatu amalan yang dengannya dapat membuat manusia dimasukkan dalam surga adalah taqwa dan husnul khuluq.

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Dalam praktek hidup sehari-hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan nyata dalam berakhlak yang baik. ِAllah Ta’ala telah memujinya dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيم

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) betul-betul di atas akhlak yang agung.” [QS. Al-Qalam (68): 4] Continue reading