Muslim & Tahun Baru

[Bagian 1 dari 3 tulisan]

Kita semakin mendekati penghujung tahun lama dan akan masuk ke awal tahun baru masehi. Pada momen tersebut, manusia di penjuru Indonesia, bahkan di seluruh dunia beramai-ramai merayakannya. Tak ketinggalan juga sebagian besar dari kaum muslimin, baik remaja maupun orang tua.

Sebagai seorang muslim, hendaknya kita tidak berkata dan berbuat melainkan dengan dasar ilmu. Sikap terbaik bagi kita adalah berilmu dahulu baru berkata dan berbuat. Maka itu, sebelum jauh melangkah mengikuti perayaan tahun baru masehi, hendaknya kita mengkaji terlebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan perayaan-perayaan seperti ini. Apakah Islam membolehkannya, atau sebaliknya melarangnya. Sebab, bisa saja seseorang mengerjakan sesuatu yang belum ia ketahui ilmunya, dapat menyebabkan datangnya murka dan siksa Allah ta’ala. Hanya kepada-Nya kita memohon keselamatan di dunia dan akhirat.

terompet

[1]. Hari Raya Tahunan Umat Islam Hanya Dua

Ketahuilah, di dalam Islam, perayaan hari raya tahunan hanya ada dua: Idul Fitri dan Idul Adha. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

قَدِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْمَدِيْنَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِيْنَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ: قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَقَدْ أَبَدَلَكُمُ الله بِهِمَا خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota Madinah sementara itu penduduknya memiliki dua hari di mana mereka bersenang-senang padanya di jaman jahiliyyah, lalu beliau berkata: “Aku datang kepada kalian, sementara kalian memiliki dua hari raya yang kalian bersenang-senang padanya pada masa jahiliyyah, sungguh Allah telah menggantikan kedunya dengan yang lebih baik darinya: hari raya idul adha dan idul fitri.” [Sahih riwayat Ahmad & Abu Dawud]

Dalam sejarah Islam, tidak pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya merayakan hari-hari besar lain selain dua hari raya di atas. Sekiranya perayaan-perayaan seperti ini baik, tentu mereka telah mendahului kita dalam mengamalkannya. Tapi nyatanya tak satu pun dari mereka ikut-ikutan merayakannya. Dari satu sisi agama ini telah sempurna, sehingga tidak membutuhkan penambahan adanya hari raya tahunan yang ketiga. Dari sisi lainnya, bila kita melihat kepada sejarah, maka tahun masehi bukanlah miliki kaum muslimin, namun milik orang-orang kafir yang merupakan musuh-musuh Allah. Akankah kita ikut merayakan hari yang dimiliki dan dirayakan oleh musuh-musuh Allah tersebut?

Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:

اِجْتَنِبُوْا أَعْدَاءَ اللهِ فِي عِيْدِهِمْ

Jauhilah oleh kalian musuh-musuh Allah pada hari raya mereka. (HR. al-Baihaqi. Fatawa Ulama al-Haram al-Makkiy hal. 113)

[2]. Larangan Mengekor Ahlul Kitab

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ: فَمَنْ

Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai bila mereka masuk ke liang dhob (hewan serupa biawak) niscaya kalian akan tetap mengikutinya. Kami berkata: Ya Rasulullah, (mereka) Yahudi dan Nashara? Siapa lagi, jawab beliau. (HR. al-Bukhari & Muslim)

Hadis di atas benar-benar terjadi. Tidak sedikit kaum muslimin yang mengekor kebiasaan orang barat yang diharamkan di dalam Islam. Contohnya: Mengkultuskan orang tertentu hingga dipertuhankan, tidak mau menuntut ilmu, tidak mau mengamalkan ilmu yang telah di dapat, bermuamalah dengan cara riba, dan memperingati perayaan hari-hari tertentu yang tidak ada contohnya dalam Islam; seperti hari ulang tahun dan tahun baru. Tidak diragukan lagi, beberapa contoh tersebut merupakan petaka bagi kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka. [Sahih riwayat Ahmad & ath-Thohawi]

Allah berfirman tentang Yahudi dan Nasrani:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ

Tunjukanlah kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai (Yahudi) dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat (Nashara). (QS. al-Fatihah: 6-7)

Seandainya muslim boleh merayakan, semestinya dia berduka cita bukannya bersuka cita. Sebab, begitu banyak amalan setahun lalu yang jauh dari tuntunan Syariat. Karena amalan tersebut akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah ta’ala. Adapun berpesta pora, bergembira ria, bersenang-senang, menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak ada faedahnya selain kepuasan jiwa, maka ini tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang muslim.

Hanya kepada Allah semata kita memohon hidayah taufik dan pertolongan.

[Edisi Murojaah]
✅ Bagian Indonesia
🏠 ICC DAMMAM KSA
📅 [ 14/03/1437 H ]
============================
Berlangganan Tulisan:
🔹 Via WhatsApp +966556288679
🔹 Via Telegram @iccdammamksa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s