Menyekutuan Allah dengan Berhala Patung

Kajian Kitab al-Qoulil Mufiid ala Kitabut Tauhid, krya Syaikh Sholih al-Utsaimin, oleh Ust Muhammad Sulhan Jauhari, di ICC Dammam, jam 1.00 siang

Ayat ke-1
“Apakah mereka melakukan kemusyrikan dengan apa yg tidak menciptakan suatu apapun dan mereka diciptakan. Dan mereka tidak mampu memberikan pertolongan.” (Surah al-Araf, ayat 191 dan 192).

Dua ayat di atas berkàitan erat dengan sesembahan selain Allah dan pertanyaan dalam ayat di atas merupakan celaan untuk mereka yg menciptkaan patung berhala kemudian mereka sembah. Padhal patung-patung yang diibadahi tsb adalah makhluk buatan yang sangat lemah, sedangkan Allah Khaliq, awalnya tidak diawali ketiadaaan dan tidak berakhir. Pada ayat kedua ditunjukkan bahwa patung sesembahan tersebut sama sekali tdk mampu memberikan pertolongan sama sekali, bahkan tidak mampu menolong dirinya sendiri, sebagaimaan kisah patung yang dihancurkan Nabi Ibrahim alaihis salaam.

bakar

Berhala yang sangat lemah diibadahi memiliki 4 sisi kelemahan;
1. Berhala tidak bisa menciptakan, maka yg tidak bisa menciptakan tdk berhak utk diibidahi;
2. Mereka makhluk, diciptakan dari ketidakadaan, maka mereka membutuhkan kepada yan lainnya;
3. Berhala tidak bisa memberikan pertolongan kepada yg berdoa kepada mereka.
4. Berhala bahkan utk menolong diri sendiri juga tidak bisa.

Ayat ke-2
“Dan orang2 yang kalian seru tidak memiliki sesuatu setipis kulit ari.” (Surah Fathir ayat 13)

Jika setipis kulit ari saja, mereka yg disembah tidak memiliki, apalagi yg lebih besar darinya. Adapun makhluk jika memiliki sesuatu, maka kepemilikiannya tidak sempurna, penuh dengan kekurangan.

“Seandainya kalian berdoa kepada mereka, niscaya mereka tidak akan mendengar, jikapun mereka mendengar, mereka tidak akan menjawab doa kalian, dan di hari kiamat,,,,,,, dan mereka memberikan kabar sebagaimana Yang Maha Megetahui, yaitu Allah (intisari ayat ke 14 surah Fathir).

Dalam kitab shahih, dari Anas bin Malik, Rasulullah dlm perang Uhud, kepala beliau terluka dan gigi geraham beliau patah. maka berkata: “bagaimana sebuah kaum bisa beruntung yg telah melukai nabi mereka.” Maka turunlah ayat: “tidak sesuatu appaun (ttg keberuntugan) ada pada dirimu (muhammad).” [Ayat 128 surah Ali Imron].

Dari hadits di atas, menunjukkan bahwa sampai nabi shalallahu alaihi wasallam bukan penentu keberuntungan atau kesialan sebuah kaum, tetapi semua ada pada kewenangan Allah Subahanallahu wa Ta’ala. Sebagaimana dulu, seorang dari Bani Israel melewati seorang yg berbuat maksiat dan bersumpah “Demi Allah, tidak akan Allah mengampuni dosa si fulan.” Maka Allah berfirman: “Siapa yang berani bersjmpah atasKu bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Telah aku ampuni dosa2nya dan aku gugurkan amalanmu.” (Hadits Riwayat Muslim 2023/4).

Syaikh Sholih Utsaimain memberikan komentar terkait hadits di atas, bahwa harusnya kita berhati2 berucap, jangan smapai keluar kata2 yg mengejek ketika melihat orang lain berbuat maksiat, jangan sampai menjauhkannya dari rahmat Allah, bisa jadi Allah telah mengampuni maksiat atau mengangkat musibah tsb kpd orang tsb. Dan selama manusia hidup, tidak menutup kemungkinan org yg tadinya menjadi musuh yg paling keras memusuhi agama Allah, kemudian berbalik menjadi wali Allah. Yang penting dari hadits di atas, agar kita mengambil pelajaran jangan menjauhkan seseorang dari rahmat Allah seburuk apapun manusia berbuat maksiat.

Dalam kitab Shahih al-Bukhari, dari Ibnu umar bahasannya pernah mendengar Rasulullah berdoa saat saat mengangkat kepalanya dari ruku di akhir rakaat di shalat fajar: “ya Allah laknatlah fulan wa fulan.” Setelah membaca “samiallahu liman hamidahu, robbana wa lakal hamd.” Maka turunlah ayat: “laisa laka minal amri syaiin” (ayat yg sama di ata setlah perang Uhud).

Dalam riwayat disebutkan yg didoakan adalah Shofwan bin Umayyah, Shuhail bin ‘Am, dan al-Harits bin Hisyam, maka turunlah ayat “laisa laka minal amri syaiin”

Dan kemudian mereka bertiga menjadi islam dan baik keislammannya radhiyallahu anhum. Maka dengan contoh inilah, kita amati bahwa awalnya memusuhi kemudian berubah menjadi loyal kpd Islam, karena sesungguhnya hati dibola-balikkan hanya oleh Allah Ta’ala.

Saat turun ayat “Dan serulah keluargamu kaum kerabat” (surah asy-Syu’ara ayat 214), maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyeru: “wahai sekalian Quraish, ,,,,,,,, sedikitpun aku tidak bisa membela kalain dari Allah.” (Hadits al-Bukhari 240/2, Muslim 1400/4).

Dari kejadian di atas, segala manfaat dan madharat hanya ada di tangan Allah semata, sampai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri tidak mempunyai kuasa dalam memberi manfaat dan mencegah manfaat, kecuali dg izin Allah. Lalu bagaimana dengan patung berhala yg diibadahi?[]

Simak audio rekaman kajian di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s