Nikmatnya Keamanan

~ Terjemah Khutbah Jumat, di ICC Dammam, 14 Muharram 1436, oleh Ust. Muhammad Sulhan Jauhari, MA. ~

Bada tahmid wa shalawat, dua hal yang disampaikan oleh khatib Jumat ini adalah nikmat keamanan dan fitnah kelompok sesat (Khawarij).

Nikmat Allah yang begitu banyak yg tidak berbilang, di antaranya nikmatnya hidup aman. Nikmat ini tidak bisa dipisahkan dengan kesempurnaan agama Islam. Karena syiar Islam tidak dapat dilakukan kecuali tidak ada jaminan keamanan. Ayat ke-55 dari surah an-Nuur mengabarkan ttg kekuasaan yang diberikan kpd kaum muslimin dengan syarat beriman, beramal sholeh, dan tidak menyekutukan Allah dalam beribadah, sebagaimana umat terdahulu.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam selama 10 tahun dalam keadaan ketakutan, berdakwah secara sembunyi-sembunyi sehinga hijrah ke Madinah. Di Madinah pun awalnya masih dalam ketakutan dengan selalu membawa senjata, sehingga seorang bertanya tetang kapan kaum muslimin merasa aman. Rasulullah menjawab tidaklah lama kecuali sesaat, kemudian turunlah ayat 55 surah an-Nuur di atas.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada seorang sahabatAli bin Hatim, beliau menanyakan apakah engkau mengetahui al-hirah (suatu kota di Irak)? Sahabat tsb menjawab tidak mengetahuinya tetapi penah mendengarnya. Kemudian Rasulullah menjawab dengan berumpah “demi jiwaku di tangan Allah, sungguh Allah akan menyempurnakan urusan ini sampai2 seorang wanita melaukuan thowaf tanpa ditemani seorang pun, dan sungguh kerajaan Kisra dan Hurmus benar2 ditaklkukkan. Dan sungguh harta ini akan diberikan danmelimpah sampai tdk seorangpun tidak menerimanya (karena merasa tercukupi).

Ali bin Hatim, melihat dari perkataan Rasulullah tsb telah terjadi, kemudian beliau mengatkaan aku juga termasuk yg ikut menaklukkan kerjaan Kisra dan Hurmus, demi jiwaku di tangan Allah, adapun yg ketiga akan terjadi (karena perkataan nabi adalah benar). Dan hal ketiga menjadi nyata terjadi di jaman khalifah Umar bin Abdil Aziz.

Allah telah memberikan nikmat aman kpd jazirah Arab, sebagaima dalam surat al ankabut ayat 67, tentang keamanan negeri tanah suci sebagai negeri aman, sementara manusia di sekitar mereka saling merampas, satu sama lainnya saling membunuh.

Di tengah keamanan yg dirasakan di negeri Haromain, terdapat sebagian orang2 yg menyimpang dg paham al-khawarij, mereka yg tidak mau taat kepada penguasa (ulil amri). Fitnah seperti ini terus ada dari masa ke masa, membuat kekacauan keamanan di tegah kaum muslimin, padahal kita berkewajiban menjaga keamanannya agar terus ditegakkan ibadah kepada Allah.

Rasulullah bersbada bawah seorsng muslim wajib mendengar dan taat kpd penguasa, baik yang dia sukai atau dibencinya, kecuali jika diperintahkan melakukan kemaksiatan, maka tidak ada ketaatan kpdanya.

Bahaya Fitnah Khawarij
Sifat khawarij di antaranya adalah orang2 muda yg pemikiran2nya belum matang, sehingga tidak mendlam pemahamannya atas alquran dan as sunnah, mereka keluar dari Islam seperti anak panah yg keluar dari busurnya, keluar dengan cepat dan tidak kembali lagi ke tempatnya semula.

Padhal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat menjaga tertumpahnya darah seorang muslim. Bahkan, dalam sebuah hadits, sungguh hilangnya dunia seluruhnya, itu lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorsng muslim saja. Orang2 yg membunuh muslimin dg sengaja, diaancam dimasukkan ke neraka dan laknat Allah atas mereka yg berbat keji tsb.

Alah berfirman dalam surah al-Anfal 24-25, berupa seruan kepada kaum mukminin untuk memunhi seruan Allah dan Rasulnya, jika diseru utk kehidupan. Dan Alah emngingatkan atas takut kpd fitnah, yg dapat menimpah bukan hanya kpd yg berbuat dzalim saja, tetapi kepada keseluruhan umat manusia.

Bahwasannya Rasulullah memberikan wasiat “aku wasiatkan kpd kalian utk senantiasa kpd Allah dan senantiasa taat dan mendengar kpd pemimpin, meskipun dari seorang hamba sahaya. Akan tampak perselisihan, maka hendaknya berpegang kepada sunnahku dan khulafaur rasyidin, genggamlah dg gigi geraham kalian, dan berhati2lah dg perkara2 yg baru.” (aw kaamaa qola rasulkualkah fi haditsihi).

[sebagaimana yang didengar, tanpa edit]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s