Berdusta Untuk Mendamaikan Perselisihan

Kitab Riaydhus Shalihin karya Syaikh Imam Nawawi, Bab 31: Mendamaikan di Antara Manusia, hadits 254.

“Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan antara yg bermusuhan, kemudian menyampaikan kabar yang berisi kebaikan, atau berkata kebaikan.” (Muttafaqun alaihi). Dan pada riwayat Muslim ada tambahan, Ummu Kultsum berkata: “dan aku tidak mendengar memberikan kriganan pada apa yg diucapkan pada manusia kecuali 3 kondisi, yaitu: dalam peperangan, mendamaikan orang yg berseteru, ataupun perkataan suami kepada istrinya atau istri kepada suaminya.”

Hadits ini menunjukkan bahwa dusta adalah tercela atau haram. Para ulama berbeda pendapat bahwa yg dimaksud dusta dalam hadits di atas adalah bentuk ungkapan “tauriyyah,” yaitu kalimat atau ucapan yang memiliki dua makna; dekat dan jauh. Contohnya sebagaimana yang pernah diucapkan oleh nabi Ibrahim alaihis salaam yang mengakui istrinya yang sangat cantik sebagai “ukhti” saat diganggu Raja Namrud. Karna jika dijawab sebagai istrinya, nabi Ibrahim akan dibunuh. Sementara jawaban beliau tidak berbohong, karena saudara seiman di kala itu memang juga istrinya.

Dalam riwayat Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu saat ditanya dl keadaan tidak aman ttg diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka dijawab oleh Abu Bakr “dia adalah petunjuk jalan,” yang dimaksud benar seorang nabi Rasulullah, tetapi dipahami oleh orang yang bertanya yang mengancam membunuhnya bahwa beliau benar petunjuk jalan agar tidak tersesat.

Adapun ulama yang lain berpendapat bahwa dusta dalam hadits di atas merupakan kedustaan yang nyata, karena dzahir lafadz hadits di atas sebagaimaan adanya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa tauriyyah termasuk dusta, karena berbeda dengan kenyataan, meskipun yg menganggap bukan dusta karena berbeda yg dipahami oleh yang diajak berbicara saja.

Berdusta dalam peperangan merupakan bagian dari strategi dan siasat untuk mengelabui musuh. Sedangkan untuk mendamaikan yang berselisih dengan mengungkapkan kebaikan orang yang satu tentang dirinya kepada lainnya yg sedang berseteru. Dan yang diperbolehkan berdusta antara suami-istri untuk menunjukkan kecintaan di antara keduanya.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s