Menyembelih Hewan Di Tempat yang Biasa Disembelih Bukan Untuk Allah

dari Kitab Al Qoul Al Mufiid fi Kitaab At Tauhiid karya Syaikh Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah

~ kajian kitab tauhid, oleh ust. Muhammad Sulhan Jauhari, di ICC Dammam, mulai jam 1.00 siang ~

Bab Terlarangnya menyembelih di tempat yg biasa disembelih bukan untuk Allah.

Bab ini berkaitan dg bab sebelumnya ttg larangan menyembelih selain untuk Allah. Menjadikan bab ini setelah tema sebelumhya, merupakan cara yg sistematis sehingga mudah diikuti dan dicerna.

~ Ayat 107-108 di surah At-Taubah tentang larangan mendirikan shalat di masjid ad-Dhirar, yang dibangun atas niat yang jahat. “Dan di antara orang2 mendirikan masjid untuk menimbulkan kemadharatan, kekafiran, untuk memecah orang2 mukminin, serta menunggu kedatangan bagi orang memerangi Allah dan RasulNya.” Dan di ayat berikutnya, “Janganlah enngkau mendirikan di dalamnya selama2nya.”

Dari ayat di atas, meskipun shalat didirikan untuk Allah tetapi di tempat masjid didirikan atas maksiat, maka sama dengan larangan menyembelih meski untuk Allah tetapi di tempat yg biasa disembelih untuk selain Allah yang merupakan bentuk kemaksiatan.

~ Hadits riwayat Abu Daud, dari Tsabit bin ad-Dhohaak radhiyallah’anhu, berkata ada seorang yang nadzar bermaksud untuk menyembelih di Buanah, maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bertanya: “apakah di tempat itu ada berhala (watsan) yang disembah di zaman jahiliyah?” Mereka menjawab: “tidak”, Rasulullah bertanya : “apakah di tempat tersebut dahulu digunakan untuk perayaaan mereka (jaman jahiliyah)?” Mereka menjawb: “tidak,” maka berkata Rasulullah: “kerjakan nadzarmu, sesungguhnya tidak diperbolehkan melakukan nadzar dalam maksiat kepada Allah.”

Ada 2 bentuk nadzar yaitu: nadzar muqayyad, yaitu terikat atau menggantugkan degan sesuatu, seperti orang yg bernadzar jika nanti lulus jadi PNS, maka saya akan begini dan begitu. Jika tidak lulus, maka tidak melaksanakan nadzarnya, adapun jika lulus, maka dilaksanakan nadzar tsb. Nadzar ini termasuk dikatakan sebagai sifat orang yg kikir, berbuat suau kebaikan jika hanya dengan syarat sesuau. Yang kedua nadzar muthlaq, nadzar yg tanpa ada sebab, hanya berupa keinginan, seperti niat akan memberika santunan saat gajiahn bulan depan, dst.

Pertanyaan Rasulullah ttg watsan, yaitu berhala yg dijadikan sesmbahan di jaman jahiliyah. Zaman jahiliyah adalah masa sebekum datang kenabian, disebut demikian karena kejahilan yg merajalela pada masa itu. Pada zaman ini, tiďak ada masa jahiliyah, karena Rasulullah telah diutus, kecuali sifat dan tempat2 tertentu seperti di negara kafir.

Pertanyaan kedua ttg perayaan (ied) yg dilakukan org di masa jahiliyah, maka sebenarnya perayaan yg diulang2i tanpa ada syariat dari Allah dan Rasulullah, merupakan sarana kepada kesyirikan setlah digandengkan dengan pertanyaan pertama tentang berhala yang disembah.

Setelah dua pertanyaan di atas dan dijawab tidak ada dua perkara di atas, maka Rasulullah membolehkan untuk menyembelih, menunaikan nadzarnya.

Faedah dari hadits di atas, Syaikh Sholeh Al-Utsaimin mengatakan bahwa dilarangnya menyembelih di tempat yg pernah di sembelih dan tempat perayaan merupakan menghindari tasyabbuh (menyerupai) kaum kafir, pengingkaran thd kemaksiatan agar terhindar dr maksiat yg lebih besar, dan menjadikan orang2 musyrikin seakan didukung dg penyembelihan di tempat2 mereka tsb.[tanda edit]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s