Mahabbatullah

~ Disarikan dari Kajian Tazkiyatun Nufus, Bab Mahabbatullah ‘Azza wa Jalla, disampaikan oleh Ust Muhammad Sulhan Jauhari (Jum’at, 23 Dzulhijjah 1435, mulai jam 9.00 pagi di ICC Dammam)

Mahabbatullah (mencintai Allah) merupakan ibadah yg sangat penting, karena siapa yg menyamakan kecintaan Allah disamakan dg selainNya, akan terjatuh kpd kesyirikan. Dikatakan, “kamaalu hubbi ma’ kamaalu al-khudzu wa al-dzulli” kesempurnaan kecintaan dengan kesempurnaan ketaatan dan ketundukan.

Kecintaan ini merupakan puncak dari tingkatan ibadah kepada Allah. Keseluruhan ibadah yang dilakukan seorang hamba kepada Allah jika dilandasi dengan cinta kepada Allah, maka ini merupakan buah dari rasa cinta tersebut. Kecintaan kepada Allah merupakan kecintaan paling tinggi, agung, mulia dan wajib, yang tidak ada kecintaan seperti ini hanya kepada Allah. Kecintaan ini merupakan fitrah bagi makhluk yg tumbuh dalam hati, dapat diterima oleh logika. Dan Allah menunjukkan keharusan cinta kepadaNya di kitab2 terdahulu, didakwahkan para nabi dan rasul.

Dalam al-Baqarah ayat 165 disebutkan bahwa sebagian manusia mencintai selain Allah seperti cintanya kepada Allah, adapun kaum mukmin lebih mencintai Allah lebih daripada yang selainNya. Allah Ta’ala berfirman:

ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله والذين آمنوا أشد حبا لله

 “Diantara sebagian manusia ada yang menjadikan tuhan-tuhan tandingan selain Alloh, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh, adapun orang-orang yang beriman lebih besar cintanya kepada Alloh.” (QS. Al Baqarah, 165).

Kecintaan kepada Allah bukan berarti ditujukan hanya kepada Allah semata, tetapi ketika Allah menetapkan untuk mencintai mahklukNya, maka kita juga wajib mencintainya. Sebagaimana Allah memerintahkan kita untuk mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, orang tua, tetangga, atau saudara sesama mukmin. Akan tetapi, mencintai Rasulullah harus di atas semua makhluk. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa tidak beriman seorang hamba hingga cintanya kepada Rasulullah melebihi dari cintanya kepada orang tuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya.

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.” (HR. Bukhari I/14 no.15, dan Muslim I/167 no.44)

Bukti kecintaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah dibuktikan oleh para sahabat yang hidup bersama Rasulullah saat itu. Banyak kisah yang menggambarkan betapa cinta kepada Rasulullah daripada orang tuanya, bahkan lebih dari mencintai dirinya sendiri. Sebagaimana kisah Umar bin Khotthob radhiyallahu ‘anhu, yang awalnya menyatakan mencintai Rasul setelah dirinya, tetapi saat diingatkan bahwa harus mencintai Rasulullah bahkan melebihi dirinya sendiri, maka pada saat itu pula Umar menyatakan mencintai Rasulullah melebihi dirinya.

Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!” (HR. Al-Bukhari dalamShahih-nya, lihat Fath al-Bari [XI/523] no: 6632)

Hilangnya Cinta Kepada Allah

Jika hilangnya kecintaan dalam hati seorang hamba, lebih menyakitkan dari kehilangan penglihatan mata, lebih menyakitkan dari orang yg tidak bisa mendengar, bahkan kerusakan hati karena tidak ada kecintaan kepada Rabbnya jauh lebih berbahaya dari rusaknya badan. Betapa banyak orang yang kehilangan bashar (mata kepala), tetapi tetap memiliki bashirah (mata hati), dan contoh lainnya yang secara fisik kekurangan tetapi hatinya tetap hidup. Perkara ini tidak dapat diterima kecuali di dalam hatinya memiliki kehidupan di dlam hatinya, kehidupan mencintai Allah.

Orang yg mencintai Allah tidak mendapati kelezatan di dunia (karena dunia itu hanya fana), dia tidak lalai dlam mencintai Allah meskipun sekejap mata saja. Kecintaan kepada Allah menghidupkan hati, makanan bagi jiwa, dan tidaklah kelezatan dan kenikmatan, serta kemenangan juga kehidupan kecuali dengan mencintai Allah. Dikatakan bahwa mencintai Allah seperti hati yang terbang, selalu banyak berdzikir, yang menjadi sebab ridha dengan berbagai cara diusahakan dengan kerinduan cintanya.[ditulis langsung dari uraian]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s