T a w a k a l

~ Kajian Kitab Tazkiyatun Nufus karya Dr. Ahmad Farid, oleh Ust Muhammad Sulhan  (di Masjid ICC Dammam, Jumat, 15 Dzulhijjah 1435)

Seringkali kita mendengar kata tawakkul atau tawakal (dalam bahasa Indonesia). Tawakal (sesuai syar’i) adalah bersandarnya hati dg tukus kepada allah dalam rangka mendapatkan kemaslahatan atau menolakk kemudharatan, baik dlm urusan dunia ataupun akherat. Tawakkal yg benar mengambil sebab, atau sikap tawakal dilakukan setalah adanya usaha. Adapun tawaakal (waa dipanjangkan) yg tdk syar’i bersandar tanpa melakukan sebab (usaha). Hal ini sebagaimana kisah seorang sahabat yg akan meninggalkan untanya, tanpa diikat kemudian bertawaakal. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk mengikatnya kemudian baru bertawakkal. Contoh yang lainnya, jika seseorang bertawakkal dg kelaparannya, maka dia berusaha dulu dengan makan dan minum. Sebaliknya yang tidak berusaha kemudian menyandarkan urusanya kpd Allah, maka ini bukan maksud tawakkal yg syar’i.

Keutamaan Tawakkal, salah satunya disebutkan dalam Surah ath-Thalaq ayat 2 -3, bahwa Allah berjanji memberikan jalan keluar dan rizki yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kpd Allah dg tulus, maka Allah akan memberikan kecukupan baginya, dalam urusan dunia dan akherat.

Keutamaan lainnya, dari hadits Umar bin khattab radhiyallahu anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Seandainya kalian bertawakkal yang sebenar2nya tawakkal, niscaya Allah akan memberikan rizki kpd kalian sebagaimana Allah berikan rizki kepada burung, pergi di pagi hari dalam keadaan perut yang kosong dan kembali sore hari dengan perut yang kenyang.” (Hasan shahih)

Dari hadits di atas, tawakkal dilakukan setelah adanya sebab (usaha), sebagaimana burung yang terbang di pagi hari mencari makan dan kembali di sore hari dengan perut kenyang.

Said bin Jubair mengatkan “tawakkal kumpulan dari keimanan.” Sahl berkata “barangsiapa mencela tawakkal berarti dia mencela keimanan”. Mengapa demikian? Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keadaanya selalu dalam tawakkal setelah sunnah berusaha. Dikatakn pula bahwa menafikan sebab usaha hanya bertwakkal berarti mencela syariah, adapun yang berkeyakinan dengan sebab usaha saja, maka sama dengan mencela akidah.

3 Macam Perbuatan Hamba Terkait Dengan Tawakkal

1. Ketaatan atas perintah Allah, sehingga Allah menjadikan ketaatan tsb menjadi sebab selamatnya seorang hamba dari nerkaa dan dimasukkan ke dalam surga. Ini perlu dilakukan setiap hamba Allah bersama dengan tawakkal, memohon pertolongan kepada Allah, karena tiada daya upaya kecuali atas seizinNya. Yusuf bin Asbath, mengatakan: “hendaknya engkau beramal seperti amal seseorang yang seakan2 tidaklah ada yg menyelamatkan diriya kecuali amal tersebut. Dan bertawakkal lah sebagai, ana tawakkal seseorang yg meyakini bahwasannya tdk ada yg menimpa dirinya kecuali yg telah ditetapkan Alah baginya.”

2. Amalan2 yg merupakan kebiasaan seorang hamba, namun Allah perintahkan untuk melakukannya. Seperti makan dan minum saat lapar dan haus, berlindung dari kepanasan, menghangatkan diri dari kedinginana, dst. Perbuatan2 ini hal yang harus dikerjakan, sehingga tidak teledor dan Allah menghukumi atas kelalaiannya, padahala dia mampu untuk mengambil sebab usaha tsb.

3. Perbuatan yg secara umum Allah berikan kepada seorang hamba, dan terkadang menjadi hal yang luar biasa kepada orang2 tertentu. Di antara contohnya, meminum obat. Adapun ada perbedaan pendapat di antar ulama ttg keutamaan amal jika datang sakit, antaranya Imam Ahmad berpendapat mencukupkan dengan bertawakkal sثbagaimana hadits nabi yg shahih: “akan masuk surga dari umatku 70 ribu orang tanpa hisab”, kemudian beliau berkata: “mereka adalah yang tdk melakukan tiyarah, tidak meminta diruqyah “Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (HR Bukhari). Adapun pendapat yg lebih rajih yaitu dengan mengambil sebab usaha dengan berobat kemudian bertawakkal, sebagaimana perintah nabi shallallahu alaihi wasallam unuk berobat ketika sakit.[praedit]

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s