Menyembelih Untuk Selain Allah

~ Kajian Kitab Tauhid, syarh Syaikh Muhammad Ibn Shaleh al-Utsaimin, oleh Ust. Muhammad Sulhan Jauhari (mulai jam 1 siang, Jum’at, 15 dzulhijjah 1435)

Menyembelih untuk selain Allah, terbagi menjadi 2:

1. Untuk mendekatkan atau menganggungkan selain kepada Allah Ta’ala, maka ini termasuk syirik besar yg dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Contohnya seseorang menyembelih hewan ditujuk kepada leluhur, penunggu pohon ini atau jembatatn itu, dst. Meskipun dg menyebut nama Allah teti ditujukan untuk selain Allah.

2. Untuk ungkapan rasa gembira atau rasa senang. Maka hal ini mubah (diperbolehkan), selama menjaga adab2nya seperti membaca bismilah Allahu Akbar saat menyembelih binatang, dst. Hal ini termasuk diperbolehkan, contohnya menyembelih utk dipersembahkan utk tamu, untuk dijual, atau utk dimakan sendiri, dan yg sejenisnya.

Kedua hal di atas, merupakan menyembelih selain kepada Allah yg berbeda hukumnya. Adapun selainnya, seperti hadyu, aqiqah, kurban di idul Adha, merupakan sembelihan diperuntukkan hanya kepada Allah. Sebagaimana dalam surah Al-An’nam ayat 162 – 163, yang artinya: “Katakan wahai Muhammad, sesungguhnya shalatku, nusuk-ku (kurban atau ibadah), dan hidupku serta matiku karena Allah Rabb semesta alam.”

Berkurban untuk Allah disyariatkan sebagaimana firman Allah: “Maka dirikanlah sholat untuk Rabbmu dan berkurbanlah.” (Al Kautsar: 2). Ayat ini didahului dengan ayat sebelumnya ttg pemberian nikmat Allah ta’ala kepada nabi shallallahu alaihi wasallam, nimmat yg banyak (al kautsar). Untuk itulah setelah nikmat tsb, diperintahkan untuk mendirikan sholat dan berkurban.

Kata perintah inhar (wanhar) pada ayat di atas, sebenarnya ditujukan utk onta, disembelih dg berdiri disaluran nafas dan makanan unta, sebagaimana yg dijelaskan dalam surah al-Hajj ayat 36.

Dari Ali bin Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyampaikan kepadaku 4 kalimat: “Allah melaknat org yg menyembelh selain kepada Allah, Allah melaknat org yg melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat org yg melindungi org yg melakukan amalan bid’ah (muhdits), Allah melaknat org yg merubah batas tanah.” (HR Muslim).

Hadits di atas merupakan kabar bukan doa yang bisa diterima ataupun tidak. Ketika hadits di atas merupakan sebuah kabar, maka dipastikan laknat Allah tersebut untuk empat orang yg melakukan empat hal di atas. Laknat Allah berarti dijauhkan dari rahmat Allah Ta’ala.

1. Menyembelih yang ditujukan selain kepada Allah. Hal ini karena perbuatan syirik yang nyata.
2. Laknat kpd orang tua, diartikn benar2 melaknat ataupun celaan, hinaah, atau ucapan yang tidak baik kepada orang tuanya. Di zaman dulu, org yg mencela org tuanya karena mencela org tua orang lain, sehingga org lain tsb mencela kedua orangtuanya (dia menjadi penyebab orang tuanya dicela).
3. Laknat Allah kpd org yg melindungi org yg berbuat amalan baru dalam agama (bid’ah), termasuk Syaikh Utsaimin memasukkan orang yg melindungi pelaku kejahatan (kriminal) dalam ancaman ini.
4. Laknat Allah kpd siapa yg merubah batas2 tanah, mengklaim tanah orang menjadi miliknya. Ini diperkuat dg hadits lainnya ttg ancaman ditumpahkan 7 kali tznah yg dirubah2 batasnya (ghsab) meski sejengkal (aw kamaa qola Rasulullah)

Keempat perbuatan di atas tergolong dosa besar, dikarenakan disejajarkan dengan dosa kesyirikan, yg merupakan dosa besar yg tidak diampuni Allah Ta’ala.

Hadits Lalat
Dari Thoriq bin Shihab, bahwsannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “sesorang masuk surga karena lalat, dan seseorang masuk neraka sebab lalat.” Mereka bertanya: “Bagaimana itu bisa terjadi ya Rasulullah?” Nabi bersabda: dua orang melewati jalan sebuah kaum yg terdapat patung, sehingga diharuskan berkuban utk patung tsb. Yang pertama berkurban, meski dg lalat, sementara yg kedua menolak karena hanya berkurban hanya untuk Allah. Yg pertama dibiarkan bebas hidup namun melakukan kesyirikan, sementara yg kedua dipenggal kepalanya, mati hingga mauk surga karena tidak mensyirikkan Allah. (Aw kaamaa qola Rasulullah, redaksi terjmehan bebas, dari hadits riwayat Imam Ahmad).

Begitulah, hanya karena seekor lalat, seseorang bisa terjerumus ke dalam neraka ataupun surga. Ini menunjukkan betapa besarnya dosa syirik, sekecil apapun perbuatannya.[belum diedit]

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s