Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

~ Khutbah Jum’at oleh Syaikh Abdul Wahid, mudir Islamic Cultural Center Dammam, KSA, terjemah disampaikan oleh Ust. Muhammad Sulhan Jauhari ~

Dalam khutbah Jum’at, 24 Dzulhijjah 1435, ini, khatib menyampaikan 2 poin utama; pertama, berkaitan dengan beberapa keutamaan dari 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Dan kedua, amalan yang disyariatkan untuk dikerjakan pada 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah tersebut. Keutamaan 10 hari di awal bulan Dzulhijjah terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan al-Bukhari:

عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب لى الله من هذه الأيام -يعني الأيام العشر- قالوا يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء — روى البخاري في صحيحه

“Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ’Tidak ada amalan shalih yang lebih dicintai Allah daripada beramal di hari-hari ini’ –maksud beliau adalah hari-hari yang sepuluh. Sahabat bertanya: ’Wahai Rasulullah, walaupun jihad fi sabililah?’ Beliau menjawab: ’Ya, walaupun jihad fi sabililah, kecuali seseorang yang pergi berjihad dengan jiwa dan hartanya, lalu dari jihad itu dia tidak pulang lagi dengan membawa suatu apapun.” (HR.Al-Bukhari).

Inilah keutamaan yang begitu mulia, tidak ada amalan di hari-hari lainnya yang menyaingi dengan 10 hari bulan Dzulhijjah di atas.

Di antara keutamaan yang lainnya, sebagaimana sumpah Allah Ta’ala dalam ayat Al-Quran. Dan tidaklah Allah bersumpah dengan makhlukNya melainkan hal tersebut menunjukkan akan agung dan mulianya makhluk tersebut, sebagaimana banyak dalam Al-Quran seperti bersumpah dengan waktu. Dan di antaranya Allah bersumpah dengan 10 hari di awal bulan Dzulhijjah dalam surah Al-Fajr:

والفجر وليال عشر

“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.” (QS.Al-Fajr: 1-2).

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Zubair, Mujahid rahimahullah dan banyak dari kalangan salaf maupun khalaf berkata: sesungguhnya itu adalah sepuluh hari Dzulhijjah. Ibnu Katsir berkata: ini adalah pendapat yang benar (tafsir Ibnu Katsir).

Jika demikian, lantas mana yang lebih utama antara 10 hari di awal bulan Dzulhijjah ataukah 10 hari di akhir bulan Ramadhan? Khatib menjelaskan, pendapat yang rajih adalah; untuk siang harinya lebih utama di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, adapun malam-malamnya, 10 hari di akhir Ramadhan adalah yang lebih utama, dikarenakan terdapat malam yang sangat istimewa, malam yang lebih baik dari 1.000 bulan, yaitu lailatul qadar di antara malam-malam tersebut.

Ada sebuah riwayat yang berderajat hasan, yang menerangkanbahwasannya seutama-utamanya hari di dunia, adalah 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah. Riwayat ini menunjukkan keutamaan yang tidak didapatpkan di hari-hari yang lainnya.

Di dalam 10 hari tersebut juga terdapat hari Arafah, di mana disunnahkan untuk berpuasa yang balasannya diampuni dosa setahun yang lalu dan yang akan datang.

Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

 “Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162). Pada 10 hari awal bulan Dzulhijjah juga terdapat Yaumul Nahri, yaitu Hari Raya Idul Adha, yang kita ketahui hari tersebut merupakan hari yang begitu mulia. Setelahnya, ada hari-hari tasyriq, meskipun di luar 10 hari pertama, tetapi termasuk dalam bulan Dzulhijjah yang terdapat amalan-amalan yang disunnahkan pada hari-hari tersebut. Baik itu untuk yang pergi haji maupun yang tidak pergi berhaji. Di antara keutamaan lainnya yagn menumjukkan keutamaan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, bahwasannya dalam riwayat Imam Ahmad,

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد”. أخرجه أحمد 7/224 وصحّح إسناده أحمد شاكر

“Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau berkata:’Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan shalih di dalamnya lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka perbanyaklah di dalamnya tahlil (laa ilaha illallahu),takbir, dan tahmid (HR.Ahmad dan sanadnya dishahihkan oleh syaikh Ahmad Syakir).

Oleh karenanya, didapati para sahabat dahulu sengaja keluar rumah kemudian berkeliling untuk bertakbir agar didengar dan diikuti oleh lainnya. Ini bertujuan untuk mengingat kepada Allah Ta’ala.

Keutamaann lainnya, pada bulan Dzulhijjah ada amalan yang merupakan rukun Islam, yaitu ibadah haji. Ibadah ini ibdah yang agung dimana seluruh umat muslim berkumpul di satu tempat untuk melakukan rangkain ibadah hingga hari tasyriqnya.

Adapun amalan puasa selama 9 hari dalam 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah terdapat perselisihan pendapat antar ulama. Ada beberapa riwayat disebutkan bahwa dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa 9 Dzulhijjah. Kata 9 ini dipahami berbeda, apakah 9 ini dimaksudkan hari ke-9 atau selama 9 hari selama awal bulan Dzulhijjah. Terdapat khilaf ulama dalam masalah ini. Adapun memperbanyak puasa, tidaklah mengapa selama 9 hari tersebut, meskipun dalam riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha dikatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa penuh dalam 9 hari tersebut.

Amalan berikutnya adalah berdzikir, seperti takbir, tahlil, tahmid atau tashbih. Membaca al-Quran juga termasuk dzikir, bahkan para ulama menganggapnya sebagai afdhalul dzikir, seutama-utamanya berdzikir. Allah Ta’ala menyebutkan Al-Quran adalah dzikir, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya.” [al-Hijr/15:9]

Di antara amalan yang disunnahkan atau disyariatkan pada bulan Dzulhijjah adalah ibadah haji dan umrah. Ibadah haji ini merupakan kewajiban bagi muslimin yang mempunyai kemampuan. Haji ini merupakan salah satu rukun Islam. Adapun umrah, ulama berbeda pendapat apakah sunnah atau wajib, dan tidak sedikit ulama mengatakan hukumnya wajib, tentu saja berkaitan dengan kemampuan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

والْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

 “Haji yang mabrur tidak lain pahalanya adalah surga.” HR. al-Bukhari (3073) dan Muslim (2824)

Oleh karena itu, kita perlu hendaknya menghadirkan hadits-hadits seperti ini ataupun ayat-ayat al-Quran yang begitu istimewa ini, dengan harapan barang siapa yang melakukannya dihapuskan dosa-dosanya yang masa lalu dan dimaksukkan dalam surga.

Amalan lainnya di bulan Dzulhijjah adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih kurban. Ibadah kurban ini bagi yang tidak pergi haji sangat ditekankan sekali, bahkan sebagian ulama mengatakan hukumnya wajib. Namun demikian, ada atsar dari Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, mereka tidak melaksanakan ibadah kurban, oleh karenanya sebagian ulama menghukuminya sebagai ibadah sunnah yang ditekankan.

Ibadah kurban merupakan bentuk meneladani sunnah nabi Ibrahim alaihisalam, yang saat itu diperintahkan menyembelih putranya Nabi Ismail ‘alaihi salam. Kemudian nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan-keutamannya, tata caranya adabnya, dan seterusnya, yang kemudian menjadi sunnah mustaqarrah, sunnah yang tetap di dalam syariat Islam. Bagi orang yang memiliki kemampuan, ditekankan agar melaksanakan ibadah ini. Karena, berkurban memiliki keutamaan yang sangat istimewa, selain untuk dirinya, juga berdampak yang luas bagi masyarakat sekitarnya.

Di antara amalan lainnya yang disyariatkan pada bulan Dzulhijjah, termasuk bulan-bulan lainnya, adalah memperbanyak taubat kepada Allah Ta’ala. Menjauhi segala macam larangan-larangan Allah dan berusaha semaksimal mungkin melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjaganya. Sebagaimana orang yang akan pergi umrah dan haji, memperbanyak taubat. Sehinnga dengan demikian, apabila meninggal dunia, maka meninggal dalam keadaan husnul khatimah, dan jika terus dipanjangkan umurnya semoga masih bisa diberikan oleh Allah mengisi hari-harinya dengan amal yagn shaleh yang diterima Allah Ta’ala.

Khatib juga mengingatkan dua hal dalam melaksanakan ibadah; ikhlas dan mengikuti jejak sunnah Rasululllah shallalahu ‘alaihi wa sallam (mutaba’ah). Berkaitan dengan keikhlasan maka ditujukan hanya kepada Allah Ta’ala, dan untuk mutaba’ah maka senantiasa terus menuntut ilmu agar benar-benar menetapi sesuai dengan contoh sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

*) Ditranskrip oleh Muhammad Jalal, dengan perubahan seperlunya. Silahkan dengar rekamannya di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s